Senin, 24 Desember 2012

Menanti Kapal Selam Chang Bogo Korsel Transfer Ilmu Indonesia

Menanti Kapal Selam Chang Bogo

Sudah merupakan sebuah kewajiban dan keharusan suatu negara yang memiliki teritori wilayah lautan sangat luas untuk memiliki armada laut yang mumpuni, tak terkecuali Indonesia. Luas wilayah laut Indonesia yang mencapai 77% dari total keseluruhan luas wilayah tentu membutuhkan penjaga-penjaga yang letal.
Gagah berani saja tidak cukup tanpa ditunjang oleh alutsista yang modern, canggih dengan kualitas dan kuantitas yang seimbang. Jangan sampai gara-gara alutsista yang sudah kuno — 20 tahun belum dimodernisasi — para penjaga kedaulatan NKRI mati konyol saat bertugas.
Jadi kangen kekuatan militer kita era tahun 60-an. Betapa militer kita saat itu mampu menggetarkan kawasan Asia Pasifik. Sudahlah….itu dahulu, saatnya menatap masa depan. Kekinian yang kita coba bahas, di mana semua sudah pada maklum alutsista militer negeri ini yang ketinggalan kereta dari tetangga-tetangga sebelah dalam sisi kualitas dan kuantitas. Dari semua mantra: darat; laut ; udara, semua perlu pembenahan dan modernisasi besar-besaran.
Dari luasnya kawasan lautan Indonesia, kekuatan Angkatan Laut Indonesia yang seharusnya mempunyai porsi paling besar sebagai penjaga terdepan dari ancaman yang datang dari luar, namun alutsista TNI AL sangat jauh tertinggal dari tetangga di kawasan ASEAN. Struktur angkatan laut negeri ini, saat ini masih jauh dari model ideal. Masih kerempeng, kurang gizi, ada otot namun belum berkembang maksimal. Untuk itulah pengadaan alutsista mantra laut sedang dikebut, baik pemenuhannya dari dalam negeri: seperti dari PT PAL Surabaya, PT Palindo Batam dan PT Lundin Industry di Banyuwangi dan juga pengadaan alutsista dari luar negeri. Tentunya alutsista yang teknologinya belum bisa kita kuasai, semisal kapal selam.

Kenapa harus Korea Selatan?
Jujur, banyak pihak kecewa dengan keputusan pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Pertahanan sesaat meneken kontrak pengadaan kapal selam dari Korea Selatan. Maklum kapal selam kelas Kilo produksi Rusia yang menjadi impian banyak pihak untuk bersanding dengan dua kapal selam kita yang terlebih dahulu sudah kita miliki: KRI Cakra dan KRI Nenggala.
Chang bogo produksi Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering merupakan turunan dari kapal selam Jerman kelas U-209/1200 di mana Korea Selatan mendapatkan lisensi untuk memproduksinya sendiri dari Howaldtswerke-Deutsche Werft GmbH (HDW), Jerman.

Jadi pada tahun 1987 — sama dengan Indonesia saat ini — Korea Selatan memesan 3 buah kapal selam dari Jerman sebagai penjaga perairannya dari ancaman Korea Utara. Satu kapal selam dikerjakan di galangan kapal Jerman, dua sisanya dikerjakan di Korea Selatan dengan semua sparepart didatangkan langsung dari Jerman. Inilah awal lahirnya Chang Bogo dan kemandirian Korea Selatan dalam membangun armada kapal selamnya
Tidak berbeda jauh dengan Korea Selatan di tahun 87 lalu, kapal selam adalah salah satu alutsista yang belum mampu untuk kita produksi sendiri saat ini. Maka daripada itu untuk kemandirian industri militer mantra laut dalam negeri yang diwakili oleh perusahaan BUMN, PT PAL, sangat membutuhkan yang namanya transfer teknologi.

Keuangan kita mampu dan sangat mampu andaikan harus membeli kapal selam kelas Kilo barang satu atau dua ekor. Itu perkara tidak pakai acara lama. Namun Kilo merupakan barang Rusia dan Rusia sendiri merupakan salah satu negara yang paling pelit untuk berbagi ilmu teknologi mesin perangnya. Tentunya tidak ada nilai tambah lainnya bila kita memaksakan untuk membeli kapal selam Kilo, kecuali nilai kapal selam itu sendiri dengan segala kelebihannya dan efek daya deterrent besar yang dapat mengguncang kawasan. Itu saja.
Hanya daya gertak namun tidak ada nilai tambah untuk kita, buat apa? sedangkan negara ini yang konon nenek moyangnya seorang pelaut membutuhkan kemandirian pengadaan alutsista kedepannya. Tidak mungkin kita selamanya harus tergantung dengan teknologi milik Rusia atau negara lain yang kita tidak diperbolehkan untuk mempelajari, menguasai dan melahirkan produk sejenis sendiri.
Nah…..ternyata pihak Korea Selatan dalam hal ini diwakili oleh Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering bersedia melakukan ToT (Transfer of Technology) dalam penjulan Chang bogonya ke Indonesia. Inilah yang menjadi acuan utama kenapa TNI AL memilih kapal selam ini di samping juga kemampuan dari kapal selam Chang Bogo class itu sendiri. Akur kawan?

Proses produksi dan bagaimana transfer teknologi itu berjalan
Dalam penandatangan kontrak pengadaan tiga kapal selam Changbogo produksi Daewoo Shipbuilding Marine Enginering (DSME) yang diteken tahun lalu, Selasa 20 Desember 2011, disebutkan dalam pembuatan 3 kapal selam baru tersebut, maka dua kapal selam akan dibangun di Korea Selatan dengan melibatkan juga teknisi dari PT PAL dalam proses pembuatannya. Sedangkan untuk kapal selam ke-tiga akan dibangun di galangan kapal dalam negeri punya PT PAL Surabaya dengan pengerjaannya murni 100 % anak-anak bangsa.

Sebenarnya teknisi – teknisi kita sudah mulai belajar di galangan kapal milik DSME Korsel sebelum teken kontrak pembelian 3 kapal selam dari sana. Yakni selama kapal selam kita dari kelas Cakra, KRI Nenggala menjalani “turun mesin” dan up grade kemampuan di DSME. Sebanyak 10 teknisi PT PAL dilibatkan dalam proses overhoul tersebut, meskipun dengan jumlah dan waktu yang terbatas. Namun sebagai langkah awal itu sangatlah berarti bukan?
Rencana pada pertengahan tahun 2018 semua kapal selam yang kita pesan sudah beroperasi menjaga kedaulatan NKRI.  Jadi kapal selam akan diserahkan kepada TNI AL secara bertahap: 2015, 2016 dan 2018 dan pada tahun 2024 kapal selam made in Indonesia orisinil rasa lokal karya putra – putri bangsa sudah berproduksi…amiinnn..siapa tahu. Entah dengan nama apa nantinya.
Dengan demikian pada tahun 2018 kita sudah memiliki 5 kapal selam yang akan berpatroli di perairan nusantara. 2 dari kelas Cakra dan 3 dari kelas Chang Bogo. Dari jumlah ini apakah sudah mencukupi dan dapat disebut ideal?
Masih jauh Pembaca Blogger! Kalau berbicara ideal seharusnya kita memiliki lebih dari 14 kapal selam. Ini jumlah minimum. Kalau mau lebih ideal lagi dengan perbandingan luas lautan nusantara, seharusnya kita punya 39 kapal selam. Waduhh...jumlah yang tidak bisa dibilang sedikit.
Nah inilah mengapa ToT sangat kita butuhkan, karena untuk memenuhi jumlah yang 39 tadi memang sepantasnya galangan kapal dalam negerilah yang mencukupinya dan kuncinya bernama Chang Bogo. Kunci untuk mencapai kemandirian mantra laut.
Spesifikasi si “anjing kampung” Chang Bogo
Berbicara mengenai kepal selam Chang Bogo yang akan segera datang, banyak rekan di forum-forum militer menyebut dengan kapal selam kelas “anjing kampung”. Berbeda dengan kelas Kilo yang dijuluki anjing herder atau kapal selam milik Malaysia dari kelas Scorpene produksi Perancis yang entah dijuluki anjing apa? Rottweiler mungkin. Tapi tetaplah anjing kampung mempunyai kemampuan untuk mengigit dan tentunya itu tergantung tuannya bukan? alias siapa yang mengemudikan kapal selam tersebut.
Militer kita sepertinya sangat mampu untuk mengoptimalkan kemampuan dari si “anjing kampung” tersebut kalau dilihat dari pengalaman dan jam nyelam para pelaut KS kita. Apalagi terbetik kabar Chang Bogo yang kita pesan bukan Chang Bogo biasa. Oww ya?
Chang Bogo memang turunan dari U-209 Jerman, namun Chang Bogo yang kita pesan merupakan Chang Bogo dengan bodi U-209 (lebih kecil dari kelas Cakra) tapi dengan isian U-214. Kalau memang ini benar adanya boleh jadi “anjing kampung” punya kita memang anjing kampung secara badan namun punya kemampuan yang tidak kalah dari seekor anjing petarung sekelas Boxer. Mantap sekali!
Ini tabel spesifikasi teknis si “anjing kampung” dari :
U-209 1100 1200 1300 1400 1500
Displacement (submerged) 1,207 t 1,285 t 1,390 t 1,586 t 1,810 t
Dimensions 54.1 × 6.2 × 5.9?m 55.9 × 6.3 × 5.5?m 59.5 × 6.2 × 5.5?m 61.2 × 6.25 × 5.5?m 64.4 × 6.5 × 6.2?m
Pressure Hull Diameter 6.8 m
Propulsion Diesel-electric, 4 diesels, 1 shaft
5,000 shp 6,100 shp (4,500 kW)
4 x 120-cell batteries 4 x 132-cell batteries
Speed (surface) 11 knots (20 km/h) 11.5 knots
Speed (submerged) 21.5 knots 22 knots 22.5 knots
Range (surface) 11,000 nmi (20,000 km) at 10 knots (20 km/h)
Range (snorkel) 8,000 nmi (15,000 km) at 10 knots (20 km/h)
Range (submerged) 400 nmi (700 km) at 4 knots (7 km/h)
Endurance 50 days
Maximum depth 500 m
Armament 8 x 533 mm torpedo tubes 
  • 14 torpedoes
  • Optional UGM-84 Harpoon integration
  • Optional Mines
Crew 31 33 30 36
Kalau dilihat spesifikasi di atas, Chang Bogo yang kita beli yaitu dari tipe 1400 ton atau U-209/1400 sudah cukup layak sebagai penjaga garis perbatasan laut dengan negara tetangga namun tentu lebih bagus lagi bila spek di atas bisa ditambah dengan pemasangan AIP( Air Independent Propulsion) agar kesenyapan saat mengendap di bawah air lebih terjaga, juga adanya sistem peluncuran rudal secara vertikal atau biasa disingkat dengan nama VLS. Agar “anjing kampung” kita bisa meluncurkan Harpoon atau rudal Yakhont dari punggungnya. Bisa keringat dingin segede onde-onde dah para penyusup yang suka nakal masuk ke perairan Indonesia.

Kapal Selam Chang Bogo kami tunggu kedatanganmu segera, Nenggala juga bulan depan sudah datang dari Korea Selatan dari operasi plastiknya. Sabar ya Cakra..sebentar lagi kamu tidak sendirian.

Keyword : Kapal Selam Chang Bogo
Sumber By http://totosociety.com/menanti-kedatangan-si-anjing-kampung-chang-bogo/


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar