Sabtu, 22 Desember 2012

Komandan Marinir Pengangkat Pahlawan Revolusi Wafat

Komandan Marinir pengangkat jasad Pahlawan Revolusi dari Lubang Buaya, Mayjen Mar (Purn) Winanto, wafat pada Minggu (2/9/2012). Winanto dimakamkan di San Diego Hills, Kerawang, Jawa Barat.

"Bapak Mayjen Purn Winanto meninggal hari Minggu 2 September 2012 jam 22.15 WIB. Meninggalnya di kediaman di Jalan Pramuka Nomor 7. Hari ini dimakamkan di San Diego Hills Karawang, jam 13.00 WIB. Kebaktian dan pelepasan jenazah sudah diadakan," ujar anggota TNI Koarmabar Ipti Arif Edi Mulyanto.

Hal itu disampaikan Arif saat berjaga di rumah duka, Komplek TNI AL Jalan Pramuka nomor 7, Jakarta Timur ketika ditemui detikcom, Senin (3/9/2012).

Di rumah duka tampak lengang, tampak tenda putih dan puluhan kursi putih serta beberapa karangan bunga antara lain dari beberapa pejabat TNI AL.

Sementara menurut pembantu rumah tangga yang sudah bekerja 17 tahun di rumah Winanto, Sipon, Winanto meninggal di kediaman karena sudah mengalami komplikasi diabetes, liver, jantung yang sudah lama.

"Sejak saya masuk, Bapak sudah menderita diabetes," kata Sipon.

Kendati sakit, namun Winanto menolak untuk dirawat di rumah sakit dan lebih memilih di rumah agar dekat dengan keluarganya. Winanto, menurut Sipon, juga tak terlalu pusing akan pantangan makan laiknya penderita diabetes.

"Makannya juga ingin yang enak-enak, sering diajak makan ke restoran di luar," tutur Sipon.

Sipon juga menilai Winanto baik dan sabar, kesehariannya dihabiskan di rumah, menikmati keseharian dengan berkaraoke mendendangkan lagu-lagu jawa. Sebenarnya, Winanto pernah ditawari untuk dimakamkan di TMP Kalibata, namun Winanto menampiknya.

"Dulu Bapak memakamkan temannya di Kalibata, lihat pemakamannya sudah penuh Bapak pesan ke ibu 'kalau nanti saya nggak pengen dimakamkan di sini soalnya sudah kepenuhan. Akhirnya Bapak memilih untuk dimakamkan di San Diego Hills," jelas Sipon.

Winanto meninggalkan seorang istri, Prof. Dr. Sri Subekti Winanto, drg, Sp.KG tanpa anak. "Bapak mengangkat keponakannya (menjadi anak). Sekarang kan sudah dewasa semua mereka," kata dia.

Peran Winanto ini dituliskan oleh Letjen Purn TNI Sintong Panjaitan dalam bukunya, 'Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando'. Sintong juga turut serta dalam mengamankan Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, dan memimpin anak buahnya dalam penemuan sumur tua di Lubang Buaya.

"Sebenarnya Kapten Winanto sebagai Komandan Intai Amfibi, tidak usah turun ke dalam sumur. Namun karena kondisi anak buahnya maupun kondisi Kopral Anang dari RPKAD sudah terkuras habis tenaganya, maka perwira pertama KKO lulusan Akademi Angkatan Laut tahun 1959 itu turun ke dasar sumur.

Ia membawa spot light yang dipasok dari catu daya listrik dari generator yang telah disiapkan dari Markas Kipam. Ternyata di dalamnya masih ada satu jenazah lagi. Jenazah itu ialah jenazah Brigjen TNI DI Panjaitan".

Pada tanggal 27 Agustus 1980, ketika Kapten KKO Winanto telah berpangkat Letkol Marinir, ia dan anak buahnya yang berperan dalam pengangkatan jenazah di Lubang Buaya mendapatkan menerima anugerah kehormatan 'Bintang Kartika Eka Pakci Nararia'
(nwk/asy)

Sumber By 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar